Example floating
Example floating
DaerahNasionalNTTPendidikan

Kursi Empuk Tak Boleh Membuat Hati Keras, Swadaya Masyarakat RW I Desa Pido Untuk Pembangunan Jembatan

126
×

Kursi Empuk Tak Boleh Membuat Hati Keras, Swadaya Masyarakat RW I Desa Pido Untuk Pembangunan Jembatan

Sebarkan artikel ini

WNK – 35 Kepala Keluarga di Wilayah RW 1, Desa Pido yang berbatasan sebelah Timur dengan Desa Padang Panjang, Kecamatan Alor Timur dan bagian Utara berbatasan dengan Desa Kenarimbala, Kecamatan Alor Timur Laut dengan Mata Pencaharian hampir 97% petani dari hasil komoditi kemiri.

Namun, kerja keras masyarakat setempat mampu melahirkan belasan orang sarjana serta jumlah anak bangsa yang melanjutkan pendidikan di tingkat sekolah menengah atas.

Tapi sayangnya, mereka lebih memilih menyebar dan bersekolah di luar SMA Negeri Pido karena jarak dan akses jalan yang tidak mendukung mereka, termasuk sungai yang sangat luas dan tidak ada jembatan penyeberangan ke sekolah tersebut.

Untuk menghidupkan SMA Negeri Pido dengan menyekolahkan anak-anak mereka di Sekolah Negeri ini, masyarakat mulai kerja keras dan kerja cerdas dengan antusias yang tinggi.

Baca Juga:  Tidak Transparan! Hasil Seleksi Tiga Besar Calon Sekda Kabupaten Alor Dipertanyakan, Desak KASN Turun Tangan

“Melalui swadaya, kami telah melakukan patungan sebesar Rp. 250.000 per Kepala Keluarga dan berhasil mengumpulkan Rp. 8.750.000 dapat membiayai BBM serta kebutuhan paku dan lain-lain untuk pengerjaan jembatan darurat. Balok yang dihasilkan sebagai bahan dasar untuk jembatan tersebut adalah Balok berukuran tebal 12×12 dengan ukuran panjang 10 dan 12 meter dan jadi bentangan juga papan sebagai alas dasar”, ungkap Imanuel Ore kepada Wartawan Warta Nusa Kenari, Selasa 20 Januari 2026.

Kegiatan swadaya ini lanjutnya, sudah berjalan 3 hari kerja.

Baca Juga:  Akibat Hujan Deras, Sejumlah Fasum Di Maritaing Terendam Banjir

“Masyarakat yang rata-rata petani mengumpulkan makanan dan minuman dan bahan lain seadanya untuk saling melengkapi. Pekerja Swadaya ini juga didukung masyarakat Desa Kenarimbala dan masyarakat Dari Desa Padang Panjang”, ujar Imanuel.

Ia membeberkan, pembuatan jembatan darurat ini merupakan satu-satunya akses yang akan digunakan disaat musim hujan maupun banjir melintas sungai Lippang.

Ironisnya kata Imanuel, para pejabat baik Pemerintah maupun DPRD yang datang di Kampung Ilemang, Desa Pido hanya mau mencari untung semata, sementara masyarakat menjadi Korban dari mereka yang berkepentingan.

“Usai memanen pergi menghilang sampai kapan dia (pejabat) membutuhkan hanya menebar rasa rindu lewat udara tanpa melalui jembatan, sehingga tidak peduli akan kondisi ini”, kisahnya.

Baca Juga:  Masyarakat Alor Ragukan Surat BKN Tentang Pengangkatan Dan Mutasi Pejabat, Frits Kafolamau: Sudah Ditangani Polres Alor

Selain itu tambah Imanuel, para guru di SD Inpres Pido sebagian besar dari luar Desa Pido.

Ia juga berharap SD Negeri Pido juga dapat diperhatikan selayaknya seperti sekolah-sekolah lain.

“Sehingga mesti disikapi walaupun harus berkorban demi kepentingan bersama terkhusus para pelajar yang berada di RW 1, Desa Pido”, ujarnya.

“Kursi yang ditempati saat datang ke kampung Ilemang (Desa Pido) tetap akan menunggu sampai kembali mendudukinya lalu menebar janji manis dan pergi tanpa meninggalkan bekas kaki maupun hasil buah tangan jeritan bercampur penyesalan namun apa mau dikata sesal kemudian tak ada gunanya”, timpalnya.

Penulis: Yusub N. Lande
Editor: Markus Kari