WNK– Kisah cinta yang penuh harap akan gapai sehidup semati tidak mesti berjalan sesuai dengan harapan yang menjadi hakekat cinta sesungguhnya jika salah satu diantaranya mengkianatinya.
Kisah cinta ini dialami oleh pasangan Endy dan Elen.
Endy yang diketahui sebagai pegawai lising dan Elen pegawai Bank NTT. Keduanya bekerja di Maumere, Kabupaten Sikka.
Kisah cinta yang penuh kebahagian itu berjalan selama sembilan tahun. Dan di Bulan April 2026 mereka putuskan untuk melangkah ke jenjang keseriusan.
Endy dan keluarga sepakat untuk meminang Elen pada Tanggal 26 April 2026 lalu dan sekaligus Endy menyematkan cincin tunangan ke jari manis sosok Elen sebagai calon istrinya. Sementara barang adat akan diantarkan pada 30 April 2026 sesuai adat istiadat mereka.
Dalam proses hantaran barang adat dan pembicaraan urusan belis serta rencana pernikahan, malam itu Elen tidak hadir karena alasan tutup buku dan harus kerja lembur. Hal itu dimaklumi keluarga dan juga Endy tunangannya.
Namun, seketika kecemasan Endy mulai muncul ketika Ia menghubungi tunangannya Elen melalui handphone sudah tidak aktif.
“Saya mulai cemas ketika awalnya sekitar jam depan malam (itu) masih bisa saya hubungi namun setelah jam sembilan lebih hpnya (Elen) tidak aktif lagi. Sebagai tunangan yang sudah kasih tanda dengan cincin tunangan atau sebagai calon suami cemas”, kisah Endy.
Firasatnya mulai tidak baik, Endy kemudian menghubungi teman-teman dan juga kakak kandung Elen untuk memastikan keberadaan dan kondisi calon istrinya itu.
“Semua informasi membuat saya dan kakak kandung Elen namanya Lisa makin cemas. Informasi dari teman dekat Elen bahwa coba cek di hotel dengan alasan kami biasanya kalau lagi stres, cape maupun menyendiri kami nginep di hotel”, kata Endy meniru pengakuan salah satu teman perempuannya Elen.
Mendengar pengakuan itu, Endy bersama kakak kandung Elen dan temannya mulai melakukan penyusuran di setiap hotel bagian barat Kota Maumere dan menyisir di bagian timur Kota Maumere.
“Dalam proses pencarian ini, teman saya patriks minta nomor polisi motor milik Elen yang digunakan. Selang beberapa saat saya ditelpon patriks bahwa dia ketemu motornya Elen di hotel Mathilda. Pikiran saya mulai ke hal yang buruk pasti sudah terjadi dengan tunangan saya”, kata Endy dengan nada marah.
“Saya tiba di hotel Mathilda dengan kakak Lisa dan minta ijin reseptionis masuk cari namun tidak diizinkan. Akhirnya saya putuskan untuk menunggu karena yakin Elen pasti keluar”, sambung endy dengan kecewa.
Hingga jam tiga subuh lanjut Endy, tunangannya itu sekaligus calon istrinya keluar dari hotel. Mirisnya Elen tidak sendirian, melainkan bersama laki-laki idaman lain.
“Saya spontan marah, heran, bingun dan kecewa, menyaksikan calon istri saya dengan laki-laki lain disaat kami baru tunangan empat hari yang lalu. Saya sangat kesal dan tentunya malu”, pilu endy.
“Malam itu juga saya langsung kumpul keluarga untuk menghentikan tunangan ini”, kata Endy dengan marah.
Keesokan harinya Endy bersama keluarga besar dan delegasi sampaikan semua kasus ini ke keluarga Elen.
Tidak hanya itu, Endy sendiri memus hubungan pertunangan bersama Elen dan meminta pengembalian semua barang-barang adat yang sudah diberikan termasuk mengambil kembali cincin tunangan.
“Sebagai tradisi kami menuntut semua barang-barang hantaran adat harus dikembalikan dua kali lipat. Keluarga Elen menyepakatinya dan akan dikembalikan tanggal 10 Mei 2026, namun ditunda dengan berbagai argumentasi yang tidak jelas dari delegasi keluarga Elen. Delegasi saya (Endy) pulang dengan kecewa dan terpaksa kami keluarga melaporkan ke kelurahan setempat untuk penyelesaiannya di kantor Lurah Waility, Kabupaten Sikka”, beber endy dengan tegas penuh wibawa yang diamini oleh keluarga besarnya.
“Dalam menunggu panggilan dari pihak Kelurahan Waility, hari ini tanggal 13 Mei 2026 (kemarin) keluarga Elen menelepon untuk (kami) mengambil barang-barang adat, mereka sudah siapkan semua”, kata Endy.
Penulis: Maria E. Florida
Foto: Ilustrasi
Editor: Markus Kari












