TeknologiBeritaDaerahEkbisOtomotif

Riset Mahasiswa ITB Di Alor Ungkap Tantangan Transportasi Online Kajek

×

Riset Mahasiswa ITB Di Alor Ungkap Tantangan Transportasi Online Kajek

Sebarkan artikel ini

WNK — Kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi digital atau ride-hailing di daerah kepulauan Alor menghadapi berbagai tantangan operasional.

Hal ini terungkap dalam penelitian lapangan yang dilakukan oleh Habel Brilian N. Taka, S.T., seorang mahasiswa Program Magister Institut Teknologi Bandung (ITB), yang telah melakukan risetnya di Kabupaten Alor selama hampir tiga bulan.

Dalam penelitiannya yang mengangkat judul “Adopsi Transportasi Online (Ride-Hailing) Kajek di Daerah Terpencil Sebagai Model Alternatif”, Habel menyoroti dinamika, adopsi teknologi, serta hambatan struktural yang dihadapi penyedia layanan transportasi lokal di wilayah periferi.

Sebagai bagian dari metodologi penelitiannya, Habel menggali data mendalam dari berbagai narasumber kunci, termasuk Direktur Utama Kajek Online Kabupaten Alor, Jhon Idrisin Molina.

Baca Juga:  Pemkab Sikka Terus Distribusi kan Bantuan Logistik Korban Gempa Bumi

Jhon Idrisin Molina memaparkan bahwa pada awal peluncurannya, layanan ojek online Kajek mendapatkan sambutan yang cukup antusias dan berjalan dengan baik. Namun, dalam perjalanannya, operasional mengalami hambatan signifikan.

“Kurangnya promosi yang masif serta keterbatasan biaya membuat operasional di awal yang tadinya cukup bagus, kini mengalami penurunan drastis. Saat ini, pengemudi atau driver aktif di Alor hanya tersisa tiga orang, sehingga praktis layanan di Alor sudah tidak aktif lagi secara optimal”, ungkap Jhon saat diwawancarai sebagai narasumber penelitian, Jumat 21 Agustus 2026.

Baca Juga:  Camat Sabdi Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI Tingkat Kecamatan ATU, Sampaikan Apresiasi Atas Penyerapan SDM Lokal

Lebih lanjut, Jhon membandingkan kondisi tersebut dengan wilayah lain. Menurutnya, layanan Kajek yang saat ini masih bertahan dan aktif hanya berada di Kabupaten Malaka.

Hal tersebut bisa terjadi karena faktor keaktifan administrator lokal dalam menggalakkan promosi secara berkelanjutan.

Selain kendala promosi dan finansial, Jhon juga mengungkapkan salah satu keluhan utama yang sering disampaikan oleh para pengemudi terkait sistem bagi hasil.

Pada tahap awal, pembagian hasil ditetapkan pada angka 20 persen bagi penyedia aplikasi, yang kemudian disesuaikan turun menjadi 15 persen.

Melihat potensi besar dari sektor ekonomi digital ini, Jhon menyampaikan harapan dan permintaannya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Alor agar memberikan dukungan nyata bagi keberlangsungan transportasi online lokal seperti Kajek.

Baca Juga:  Ketersediaan Pasokan Beras Melimpah, Perum BULOG Perkuat GPM Di Alor

“Kami berharap ada dukungan dari pemerintah daerah. Sebab, kehadiran layanan ini bukan hanya sekadar sarana transportasi, melainkan membuka lapangan kerja baru bagi warga masyarakat di Alor untuk mendongkrak perekonomian lokal sekaligus mendukung perkembangan UMKM di daerah”, pungkasnya.

Melalui penelitian tesis ini, Habel Brilian N. Taka diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan model transportasi alternatif berbasis digital yang adaptif terhadap karakteristik geografis dan sosial ekonomi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.

Penulis: Sius Djobo
Editor: Red