ReligiAgamaBeritaBudayaDaerahNTTPendidikan

Ketika Toleransi Menjadi Nyata: Suku Belutowe Muslim Hibahkan Tanah Untuk Pembangunan Sekolah Katolik Di Hoelea

×

Ketika Toleransi Menjadi Nyata: Suku Belutowe Muslim Hibahkan Tanah Untuk Pembangunan Sekolah Katolik Di Hoelea

Sebarkan artikel ini

WNK – Sebuah kabar gembira dan sukacita datang dari Desa Hoelea, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Dalam semangat kebersamaan dan gotong royong, Suku Belutowe secara resmi menghibahkan tanah adat miliknya untuk pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik di Desa Hoelea tersebut.

Keputusan mulia ini disepakati dalam pertemuan adat yang digelar di salah satu rumah warga, pada Kamis 17 September 2026.

Kesepakatan tersebut dalam pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh adat Suku Belutowe, Pastor Paroki Santu Yusuf Hoelea, RD. Frederikus T. Saban, Pr, dan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Lembata Jamaludin Malik, S.Ag.

Pertemuan bersejarah ini berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan persaudaraan.

Para tetua adat Suku Belutowe menyampaikan dengan tulus ikhlas kerelaan mereka menyerahkan lahan untuk kepentingan pendidikan generasi muda.

“Kami dari Suku Belutowe melihat pendidikan adalah jalan masa depan. Tanah ini kami hibahkan bukan untuk kami, tapi untuk anak cucu kami di Hoelea agar bisa sekolah yang layak dan bermutu”, ungkap Bram A. Belutowe, sekaligus Ketua Umum Solidaritas Nasional Khebinekaan Bersatu (SNKB) Jakarta.

“Kami menghimbau untuk menjaga silatuhrami antar umat beragama tanpa ada sekat. Kami Muslim menghibahkan (tanah) untuk Katolik”, tambah Bram yang juga tokoh Muslim sekaligus tokoh adat Suku Belutowe.

Baca Juga:  Warga Keluhkan Distribusi Bantuan Gempa Di Sikka, AWAS Buka Call Center Pengaduan

Pihak Paroki Santu Yusuf Hoelea menyambut baik hibah ini dan menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kemurahan hati Suku Belutowe.

Kesepakatan ini merupakan wujud nyata Iman dan Budaya berjalan bersama untuk masa depan anak-anak generasi emas.

Pembangunan Sekolah Menengah Atas Katolik ini diharapkan menjadi pusat pendidikan Katolik yang berkualitas, berakar pada budaya adat, dan menjawab kebutuhan pendidikan menengah di wilayah Hoelea dan sekitarnya.

Pihak Kantor Departemen Agama Kabupaten Lembata yang turut hadir menyatakan dukungan penuh dari pemerintah terhadap inisiatif kolaboratif antara masyarakat adat, gereja, dan pemerintah.

Dengan adanya hibah tanah ini, proses persiapan pembangunan Sekolah Menengah Atas Katolik Hoelea akan segera memasuki tahap selanjutnya, termasuk pengurusan legalitas hibah dan perencanaan pembangunan fisik.

Hibah tanah ini menjadi bukti nyata kontribusi adat untuk kemajuan pendidikan dengan emegang teguh nilai adat dan kebersamaan sekaligus rasa toleransi antar umat beragama di daerah ini.

Tentang Suku Belutowe

Secara administratif dan kultural, Belutowe merupakan salah satu dari suku besar yang mendiami Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Suku ini terintegrasi ke dalam tatanan adat masyarakat Kedang (suku bangsa asli yang mendiami wilayah timur Pulau Lembata, meliputi Kecamatan Omesuri dan Buyasuri).

Baca Juga:  Wartawan Bukan Sekadar Mitra Publikasi, Yayasan Astra Salurkan Bantuan Untuk 30 Jurnalis Sikka

Dalam struktur sosial masyarakat Kedang di Omesuri, kedudukan suku sangatlah sentral. Suku Belutowe sering kali disebut berdampingan dengan suku besar lainnya di wilayah tersebut, seperti Suku Lamadike. Bersama suku-suku lain, mereka memegang peranan penting diantaranya:

1. Sistem Pemerintahan Adat (Leu-Awa). Sistem ini mengatur tatanan hidup, hukum adat, kepemilikan tanah ulayat, serta penyelesaian konflik internal warga kampung (leu).

2. Sistem Perkawinan Tradisional. Masyarakat Kedang menganut sistem patrilineal yang kental, dimana suku Belutowe bertindak sebagai pemberi gadis (belake) atau penerima gadis (anak-weweng) dalam jejaring perkawinan adat yang memperkuat hubungan kekerabatan antar-kampung.

3. Upacara Adat dan Tradisi Keagamaan. Sebagai bagian dari etnis Kedang, warga dari Suku Belutowe terlibat aktif dalam ritus-ritus agraris dan penghormatan leluhur, diantaranya Poan Kemer Ka Weru (Syukuran Panen) yakni upacara adat tahunan untuk mensyukuri hasil bumi (seperti jagung dan padi) kepada Ula Oyo Lero Wa (Tuhan/Penguasa Langit dan Bumi) serta arwah leluhur, Upacara Pembuatan Rumah Adat (Rie-Aba) yakni suku-suku besar seperti Belutowe memegang hak ulayat atau tiang-tiang utama tertentu dalam pendirian rumah adat kampung, yang melambangkan status dan tanggung jawab sosial mereka.

Baca Juga:  Polemik Kayu Tumbang Egon Gahar Makin Panas! Advokat Pertanyakan Legalitas, Pembeli hingga Aliran Uang

Secara Geografis dan Kehidupan Sosio-Ekonomi dalam mata pencaharian, mayoritas masyarakat Suku Belutowe di Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata ini hidup sebagai petani lahan kering (bercocok tanam jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, dan kemiri) serta nelayan bagi mereka yang bermukim di wilayah pesisir pantai utara Lembata.

Dalam kesehariannya, masyarakat Suku Belutowe berkomunikasi menggunakan Bahasa Kedang (yang memiliki ragam dialek lokal tergantung desanya di Omesuri).

Kehidupan beragama pada masyarakat Suku Belutowe mencerminkan karakteristik masyarakat adat di Pulau Timor dan Kepulauan Flores-Solor-Alor-Lembata secara umum, dimana terdapat sinretisme yang harmonis antara agama samawi khususnya Kristen, Katolik dan Islam dengan ritus adat leluhur.

Saat ini, keturunan Suku Belutowe telah bertansformasi sosial dan modernisasi dengan tidak hanya menetap di kampung halaman, tetapi juga telah menyebar melalui jalur pendidikan dan pekerjaan. Banyak generasi mudanya yang menempuh pendidikan tinggi serta berkarier sebagai guru, dosen, pemandu wisata, pegawai pemerintahan, hingga aktif di organisasi kemasyarakatan baik di lingkup Kabupaten Lembata maupun di luar pulau hingga ke Ibukota Jakarta.

Penulis: ER
Editor: Red