BeritaDaerahNTT

Rumah Bambu Tua Nyaris Roboh, Perempuan Lansia Ini Hanya Menunggu

9
×

Rumah Bambu Tua Nyaris Roboh, Perempuan Lansia Ini Hanya Menunggu

Sebarkan artikel ini

WNK – Di saat banyak orang menikmati masa tua bersama keluarga dalam rumah yang aman dan nyaman, Maria Fatima justru menjalani hari-harinya dalam sebuah rumah bambu tua yang nyaris roboh di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.

Perempuan lanjut usia itu hidup dalam kesunyian yang panjang. Rumah yang menjadi tempat berlindungnya dari panas dan hujan tampak semakin rapuh dimakan usia.

Dinding anyaman bambu telah lapuk, sebagian terbuka, sementara tiang-tiang penyangga terlihat rentan menahan beban bangunan yang seolah sedang menunggu waktu untuk menyerah.

Setiap kali angin bertiup kencang atau hujan turun pada malam hari, kekhawatiran menjadi teman yang tak pernah pergi.

Rumah itu memang masih berdiri, tetapi kondisinya menyimpan pertanyaan besar. Sampai kapan mampu bertahan?

Baca Juga:  Carut-Marut Proyek Jalan Baranusa-Kabir, Dugaan Kongkalikong BBM Hingga Tuntutan Ganti Rugi Lahan

Pantauan Wartawan Warta Nusa Kenari di lokasi, menunjukkan bangunan sederhana tersebut jauh dari kata layak huni. Tidak terlihat tanda-tanda kemewahan. Yang ada hanya ruang hidup yang semakin termakan usia, menjadi saksi bisu perjuangan seorang janda lansia menjalani hari-hari terakhir dalam hidupnya.

“Kasihan Mama Tima. Beliau sudah tua. Rumahnya seperti ini dari tahun ke tahun kalau hujan deras atau angin kencang, kami juga ikut khawatir”, ujar Susana Susar, warga Dusun Hepang, Minggu 31 Mei 2026.

Menurut warga, Maria Fatima dikenal sebagai sosok sederhana yang tidak banyak mengeluh. Ia menjalani hidup dengan segala keterbatasan yang ada. Namun bagi masyarakat sekitar, kondisi yang dialami perempuan lansia itu menghadirkan keprihatinan yang sulit diabaikan.

Baca Juga:  Rekonsiliasi Konflik Dengan Jalan Damai

Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan, rumah Maria Fatima berdiri sebagai potret sunyi yang mungkin luput dari perhatian.

Tidak berada di pusat kota. Tidak pula berada di pinggir jalan utama yang mudah terlihat. Rumah itu berdiri di sudut kampung, menyimpan cerita tentang seorang ibu tua yang tetap bertahan meski keadaan tidak berpihak kepadanya.

Warga di sekitar dusun ini mengatakan, mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya berharap ada perhatian bagi seorang janda lansia yang kini menjalani usia senja dalam rumah yang kondisinya semakin memprihatinkan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang gedung yang berdiri megah atau proyek yang selesai dikerjakan.

Baca Juga:  Dikmen Wilayah III Alor Gelar Berbagai Perlombaan, Wagub Johni Asadoma Dipastikan Buka Kegiatan Songsong Hardiknas 2026

Kadang-kadang, ukuran itu terlihat dari apakah seorang ibu tua di pelosok desa masih harus tidur di rumah yang hampir runtuh, atau sudah bisa menikmati masa tuanya dengan lebih layak dan bermartabat.

Di Dusun Hepang, Maria Fatima masih menunggu hari-hari berlalu di balik dinding bambu yang semakin rapuh. Menunggu apakah ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang tergerak untuk datang membantunya.

Karena bagi seorang ibu yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam kesederhanaan, rumah yang aman bukanlah kemewahan.

Ia adalah harapan paling sederhana yang hingga kini belum sepenuhnya dimiliki.

Penulis: Maria E. Florida
Editor: Markus Kari