WNK – Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, tiba di Warsalelang, Desa Mawar, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, 26 April 2026. Bersama rombongan yang terdiri dari Ketua KMK Abal dan para Pendeta SE Klasis Tribuana, Pj. Sekda Alor Obeth Bolang, S.Sos.,M.AP, Plt. Asisten 2 Setda Kabupaten Alor serta tamu undangan tiba di Pelabuhan Bakalang sekitar pukul 14:30 WITA.
Kehadiran pelayan-pelayan Tuhan ini disambut tiupan siput berbunyi dan Qasidah dari Umat Muslim di Bakalang yang diterima KMK Pantar Timur, Camat Pantar Timur, Kapolsubsektor Pantar Timur bersama warga jemaat yang hadir ditempat itu.
Selanjutnya, Pdt. Samuel bersama rombongan diarak-arakan menuju Kolijahi (kampung muslim) yang disambut penuh sukacita dengan grup Qasidah Nursyuhada Kolijahi.
Disela-sela proses penyambutan ini, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, merasa terkesan dengan penyambutan dari umat Kristiani dan Umat Muslim.
“Beberapa kali kegiatan di Alor saya sudah terbiasa dengar penjemputan-penjemputan dari sahabat-sahabat saya muslim. Tapi (Penjemputan Kegiatan 100 Tahun Injil Masuk Warsalelang) hari ini saya mengalami secara langsung. Jadi ini pengalaman lebih besar dan menurut saya memang indah. Ini bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ini lahir ketika Agama menjadi culture budaya. Agama meresapi semua kehidupan. Dan saya percaya ini tiada duanya. Memang betul, ini warisan perlu dijaga. Agama menjadi tulang punggung menata kehidupan. Ada sukacita, penyambutan yang luar, sangat seru”, ucap Pendeta Samuel.
Ditempat yang sama, Ketua Remaja Masjid (Remas) Nursyuhada Kolijahi, Hidayatullah membeberkan, prosesi penyambutan ini dilaksanakan karena toleransi antar umat beragama sangat tinggi.
Sebab menurutnya, tradisi leluhur yang telah dibangun sejak jaman dahulu kala mempererat hubungan antar kedua kampung ini.
“Jadi proses sampai bisa (penyambutan) seperti ini karena itu jasa leluhur kami yang membuat kita kuat. Waktu pengerjaan Masjid keluarga Warsalelang datang dan pengerjaan gereja bahkan satu Kolijahi ini turun kerja. Jadi sudah seharusnya punya ikatan darah, suku dan lain sebagainya, jadi sudah diharuskan untuk kami melaksanakan hasil kesepakatan yang telah dibangun”, ungkapnya.
“Toleransi kami disini sangat kuat antara kampung Warsalelang dan Kolijahi sejak jaman nenek moyang kami. Sehingga kami generasi yang baru tumbuh ini tetap menjaga toleransi antar dua kampung ini maupun secara keseluruhan. Prinsip kami, Warsalelang adalah Kolijahi dan Kolijahi adalah Warsalelang”, ucapnya.
Usai penyambutan yang diakhiri dengan Lego-Lego bersama di Kolijahi, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, bersama rombongan dan warga Kristen maupun warga Muslim melanjutkan perjalanan menuju Jermachageng, Tuntuli, Desa Mawar, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor.
Di tempat ini, dilakukan kumpulan (Ibadah) yang dipimpin oleh Ketua Majelis Klasis Alor Barat Laut Pdt. Simon Petrus Amung, S.Th. Selain itu, juga dilakukan penyerahan Alkitab (Injil Tuhan) dari Tokoh Agama Paulus Waang kepada Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th. Selanjutnya, diserahkan kepada Pdt. Simon Petrus Amung, S.Th. Dan selanjutnya diberikan kepada Ketua Majelis Klasis Pantar Timur Pdt. Very Ceptaida Nenot’ek-Bang.
Menurut kutipan sejarah yang dituturkan pemandu prosesi, tempat ini pertama kalinya para leluhur Kampung Warsalelang mengikuti kumpulan yang selanjutnya membawa Injil masuk di kampung Warsalelang.
Setelah itu, Pendeta Samuel bersama rombongan dan umat Kristiani dan Umat Muslim melanjutkan perjalanan menuju Erewasing. Ditempat ini, Umat Tuhan Jemaat GMIT Panria Warsalelang telah menunggu kehadiran sosok pembawa Injil sukacita.
Pendeta Samuel bersama rombongan kemudian disambut dengan pengalungan selendang.
Selanjutnya, dinyalakan obor kehidupan dimulai dari Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, Asisten 2 Setda Kabupaten Alor dan rombongan bersama warga jemaat dan tamu undangan melakukan long march sepanjang 2 KM hingga tiba di kampung Warsalelang.
Sebelum memasuki halaman gereja Panria Warsalelang, mereka disambut dengan sebuah drama singkat saat para leluhur membawa Injil. Dalam drama singkat tersebut, dipertontonkan berbagai hal. Mulai saat para penginjil saat itu sebelumnya ditolak, dipukul dan lain sebagainya. Namun, pada akhirnya masyarakat setempat menerima Injil sebagai kekuatan Allah yang menerangi setiap kehidupan manusia.
Selanjutnya, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, bersama rombongan menuju halaman gereja GMIT Panria Warsalelang. Di dalam perjalanan, mereka disambut tarian tradisional.
Di hadapan ribuan umat Tuhan baik Kristen maupun Islam, Ketua Majelis Jemaat Panria Warsalelang Pdt. Bimidi Koilmo, S.Th, kemudian menerima Alkitab (Injil) yang dibawa para penginjil bersama Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, bersama rombongan dan tamu undangan.
“Mulai dari Jermachageng yang ada dalam kegelapan, terang Tuhan bercahaya melalui Firman-Nya diantar masuk ke kampung Warsalelang diatas tanah yang kita injak saat ini. Dan didalam ketaatan kepada Yesus Kristus Pemilik dan Kepala Gereja, atas nama Gereja Masehi Injili di Timor saya selaku pelayan Tuhan menerima tanggung jawab pelayanan, pemberitaan Firman untuk menerangi seluruh Jemaat Tuhan di Panria Warsalelang, Amin”, sambutnya.
Akhirnya, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, S.Th, bersama Asisten 2 Setda Kabupaten Alor mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Alor dan para rombongan serta tamu undangan setelah melalui berbagai prosesi penjemputan dan peristiwa Iman di beberapa tempat memasuki tenda sukacita sekitar pukul 18:15 WITA.
Penulis: Markus Kari
Editor: Red












