WNK – Enam hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, sejumlah warga di Kabupaten Sikka, mengaku masih menunggu pendataan dan perhatian dari pemerintah. Kondisi tersebut membuat warga harus bertahan secara mandiri dengan mengandalkan persediaan yang ada.
Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa tersebut. Namun, hingga saat ini, warga setempat mengaku belum mendapatkan pendataan terkait kondisi rumah mereka dari pihak pemerintah maupun instansi terkait.
Etnasius Edi, alah seorang warga terdampak RT.12/ RW.3, Desa Koting A, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka menyampaikan bahwa sejak bencana terjadi, dirinya belum menerima bantuan dari pemerintah.
Ia menceritakan pagi itu Sabtu 15 Agustus 2026 lalu, dirinya menyusul istrinya menjual ke pasar setempat. Namun, saat tiba di lokasi tersebut sudah terjadi gempa bumi.
“Saya cari istri tidak ada. Akhirnya saya pulang sendiri ke rumah juga tidak ada dan saya lihat rumah itu di jendela barang semua sudah jatuh”, kisah Edi.
Setelah itu, Edi memutuskan kembali mencari istrinya ke lokasi pasar. Tiba disana hingga siang, Ia menjumpai istrinya dan kembali ke rumah milik mereka.
Saat tiba di rumah, Edi bersama istri ketakutan untuk masuk ke dalam rumah miliknya dan memilih tidur di luar rumah bagian belakang.
“Kan rumah sudah retak to, jadi rencana kami mau ke (lapor) ke RT tapi masih panas-panas (heboh) dengan gempa ini toh. Jadi mendingan kita tidur di luar rumah (bekas dapur) saja bawa bantal dan tikar”, ungkapnya.
Lanjut Edi, Ia mendapatkan komunikasi dari anaknya yang di rantauan bahwa ada perhatian dari pemerintah dan relawan kemanusiaan sekaligus menanyakan bantuan tersebut. Namun, Edi menjawab kalau belum ada bantuan sama sekali hingga saat ini.
“Tadi saya dengar dari tetangga dusun 2 (sebelah) itu sudah dapat bantuan dari Kawan Gibran. Akhirnya saya pergi ikut lapor, tau-taunya sampai disana ada Sekdes (Koting A) bilang tidak bisa. Harus lapor ke RT”, kisahnya.
Sehingga lanjut Edi, Ia memutuskan kembali ke rumah sambil berpikir jika dirinya mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun tidak juga bersyukur. Sebab, hingga saat ini belum ada perhatian dari pemerintah yang mendatangi atau mendata korban terdampak gempa Flores ini.
“Saya bilang sama istri dan anak saya di Kalimantan (rantauan), biar sudah kalau mereka (pemerintah dan relawan kemanusiaan) mau bantu ya syukur, kalau tidak juga syukur. Karena memang kita orang susah ya tetap susah”, ungkapnya.
Edi berharap, pemerintah bisa memperhatikan kondisi masyarakat pasca gempa Flores ini.
“Pemerintah itu setidaknya tau keluh kesah masyarakat apalagi kita orang kecil yang tertimpa bencana ini, supaya cepat ambil tindakan sehingga kita juga bisa dapat bantuan. Makanya saya bingung ini sudah hampir satu minggu ini belum ada tanda-tanda bantuan, sampai saya berpikir terserah pemerintah. Mau bantu na bantu, kalau tidak na biar sudah begitu”, tegas Edi.
Ditempat yang sama, Heronimus Warga terdampak Gempa Flores mengungkapkan dirinya hingga saat ini belum mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah maupun relawan kemanusiaan.
“Waktu gempa (Flores) ini saya setengah mati. Rumah saya bagian dapur hancur total dan rumah besar retak. Saya dan istri tidur dibawah pohon. Terpal juga tidak ada”, kisahnya.
Heronimus mengungkapkan, warga lain yang melaporkan diri diberikan bantuan oleh pemerintah. Namun dirinya masih trauma dan belum melaporkan ke pihak berwajib. Sehingga, Ia masih memilih belum beraktivitas seperti warga lain.
“Yang lain pigi lapor, pemerintah kasih beras dengan Sarimi. Kita tidak dapat. Pemerintah tidak pernah muncul lihat kita punya kondisi begini. Namanya rumah roboh (hancur) itu kasih bahan bangunan seperti semen dan lain-lain begitu, ini tidak juga. Rencana mau pigi lapor tapi masih ada gempa (susulan) begini nih”, ungkapnya.
Heronimus berharap, pemerintah memberikan bantuan yang wajar dan seharusnya sesuai dengan kondisi kerusakan yang terjadi akibat bencana alam gempa ini.
Saat disinggung terkait bantuan beras dan makanan lainnya, dirinya akan menolak. Sebab menurutnya, bantuan yang diberikan oleh pemerintah seharusnya sesuai dengan kebutuhan.
“Harus dibantu bahan bangunan untuk rumah-rumah yang rusak itu, tolong diperhitungkan berapa kerugian. Kalau saya diberikan bantuan seperti beras atau makanan lainnya saya tolak. Ini bukan gagal panen atau apa begitu. Ini kan saya punya rumah roboh, jadi bantu semen begitu ko. Satu atau dua sak begitu juga saya terima “, ucapnya.
Penulis: Maria E. Florida
Editor: Red












