WNK – Menanggapi beredarnya isu miring di tengah masyarakat terkait keterlibatan Organisasi Masyarakat (Ormas) dalam operasi penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di wilayah Kecamatan Kangae dan Kewapante, Ketua DPC GRIB Jaya Sikka Edoardus Berty atau yang akrab disapa Edo Rakeng memberikan klarifikasi tegas.
Pihaknya membantah keras tuduhan bahwa Ormas GRIB Jaya bertindak sebagai “preman bayaran” Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sikka.
Edo Rakeng menegaskan bahwa, kehadiran Anggota GRIB Jaya Sikka di lapangan murni didasari oleh rasa prihatin dan kepedulian terhadap kondisi lalu lintas serta kebersihan lingkungan di jalur trans Maumere-Larantuka.
Menurutnya, kondisi jalan di wilayah Kecamatan Kangae dan Kewapante, khususnya di area Geliting, telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Kemacetan parah akibat okupasi bahu jalan oleh pedagang, ditambah dengan bau ikan yang kurang sedap akibat penumpukan limbah dagangan di sembarang tempat sangat mengganggu kenyamanan warga dan pengguna jalan.
“Sebagai putra asli Kewapante dan warga Geliting, hati saya tersentak melihat keadaan ini. Jalan trans Maumere-Larantuka adalah urat nadi ekonomi kita, tapi kini macet total dan tidak higienis. Kami turun bukan karena disuruh atau dibayar, tapi karena kami cinta tanah air kami, Nian Tana Sikka”, ujar Ketua GRIB Jaya Sikka Edo Rakeng dengan nada tegas, Kamis 30 April 2026.
Lebih lanjut, Edo Rakeng menjelaskan bahwa, aksi penertiban yang dilakukan adalah bentuk kolaborasi sinergis antara elemen masyarakat (GRIB Jaya) dengan aparat penegak Perda (Satpol PP dan Damkar Sikka).
Ia menambahkan, GRIB Jaya hadir untuk membantu mengamankan situasi, melakukan pendekatan persuasif kepada pedagang dan memastikan proses penertiban berjalan tanpa kerusuhan.
“Kami berkolaborasi dengan Pol PP karena kami punya visi yang sama yakni Ketertiban Umum. Ini adalah tugas mulia untuk mengembalikan fungsi jalan dan menjaga kesehatan lingkungan”, pungkasnya.
Menanggapi stigma negatif yang sering melekat pada ormas yang terlibat dalam penertiban, Edo Rakeng menekankan integritas organisasi masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
“Perlu saya tegaskan di sini, Pemda Sikka tidak membayar kami sebagai preman. Kami turun dengan wadah yang jelas, yaitu Ormas GRIB Jaya yang sah dan terdaftar. Saya Edo Rakeng, memimpin organisasi ini dengan prinsip transparansi dan kecintaan terhadap daerah. Kami adalah mitra pemerintah dalam membangun ketertiban, bukan alat kekerasan”, tegasnya.
Langkah GRIB Jaya Sikka ini mendapat apresiasi dari sejumlah warga Kecamatan Kewapante yang selama ini resah dengan kemacetan dan kebersihan di sekitar pasar liar.
Mereka menilai, kehadiran ormas lokal yang memahami adat dan budaya setempat dapat menjadi jembatan komunikasi yang lebih efektif antara pedagang dan pemerintah.
Dengan klarifikasi ini, GRIB Jaya Sikka berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak berdasar, dan terus mendukung upaya bersama menuju Sikka yang lebih tertib, bersih, dan maju. Semua berawal dari kepedulian.
Penulis: Maria E. Florida
Editor: Markus Kari












