WNK – Di sebuah tempat sederhana di pelosok wilayah Kabupaten Alor, di bawah rumah gudang yang nyaris tak dilirik orang, suara tawa kecil dan ejaan terbata-bata perlahan menghidupkan harapan. Namanya Nazamuddin Syain.
Bagi sebagian orang, Ia hanya seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Alor Tengah Utara. Pekerjaan yang membuatnya harus bertugas dari Desa Manetwati, Desa Fuisama, Desa Welai Selatan, dan Desa Fungafeng, dengan menyusuri jalanan yang tak selalu ramah, menembus panas dan debu yang seolah tak pernah usai. Tapi bagi anak-anak di pelosok, Ia adalah sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah pintu kecil menuju dunia yang tak pernah mereka bayangkan.
Suatu hari di Desa Fungafeng, Ia kembali membuka tasnya. Bukan berisi barang berharga, bukan pula sesuatu yang mahal. Hanya buku. Tumpukan buku dengan halaman yang mulai menguning, tapi menyimpan cerita-cerita yang tak pernah tua.
Anak-anak mulai berkumpul. Ada yang datang tanpa alas kaki, ada yang masih memegang sisa permainan dari tanah. Mata mereka penuh rasa ingin tahu, tapi juga ragu. Mereka belum terbiasa dengan dunia yang tidak bersuara, dunia yang hanya berbicara lewat huruf-huruf. Dunia yang membuka cakrawala pengetahuan.
Dengan sabar, Nazamuddin duduk di antara mereka. Ia tidak saja membagikan buku. Ia membacakan. Ia menjelaskan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan polos yang kadang terdengar sederhana, tapi sebenarnya mendalam. Ia menuntun mereka mengeja, seolah sedang merangkai mimpi dari huruf-huruf yang tercerai.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh layar dan notifikasi, Ia memilih jalan yang sunyi, menghidupkan kembali kebiasaan membaca.
“Sekarang kita ada di persimpangan. Anak-anak kita lebih sering diasuh oleh gadget. Informasi datang cepat, tapi hilang lebih cepat lagi”, katanya suatu waktu dengan pelan tapi tegas, dikutip dari (Facebook) Alor Vibes, Sabtu 18 April 2026.

Ia tidak sedang melawan teknologi. Ia hanya mencoba menyelamatkan sesuatu yang perlahan hilang, kemampuan untuk berpikir, membayangkan, dan memahami.
Baginya, membaca bukan hanya kegiatan. Membaca adalah latihan kesabaran. Membaca adalah cara melatih otak untuk tidak hanya menerima, tapi juga menyaring.
Ia tahu, anak-anak di pelosok Alor mungkin tak pernah memegang tablet terbaru. Tapi saat tangan kecil mereka menyentuh lembaran buku, ada sesuatu yang terjadi, sebuah koneksi yang tak bisa digantikan oleh layar.
Disitulah keajaiban itu hidup. Taman baca keliling yang Ia bangun bukan hanya berupa kumpulan buku yang berpindah tempat. Ia adalah harapan yang berjalan. Ia adalah pelita kecil yang dibawa dari desa ke desa, dari satu anak ke anak lainnya.
Satu buku yang sampai ke tangan anak di desa terpencil mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi Nazamuddin, itu adalah seribu cahaya yang menembus gelap. Karena Ia percaya, ketidaktahuan bukanlah takdir, itu hanya soal siapa yang mau datang lebih dulu membawa terang.
Dengan perlahan, Ia mengalihkan jempol-jempol kecil dari layar ke halaman buku. Mengajarkan bahwa belajar bukan hanya tugas sekolah, tapi bagian dari hidup. Ia menegaskan bahwa ilmu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tapi dirangkul.
Ia menanam sesuatu yang tak langsung terlihat. Rasa percaya diri, daya pikir, dan mimpi.
Mungkin saja, bertahun-tahun dari sekarang, ketika anak-anak itu tumbuh besar dan berdiri di tempat yang lebih tinggi, mereka tidak akan ingat semua judul buku yang pernah mereka baca. Tapi mereka akan ingat seseorang yang pernah duduk bersama mereka, di bawah rumah sederhana, membacakan dunia dan memperlihatkan masa depan mereka.
Dan dari sanalah, masa depan itu diam-diam mulai dirajut. Lebih cerah, lebih kritis, dan lebih berdaya, bersama Naza Syain.
Editor: Markus Kari












