WNK – Ditengah dinamika global yang terus berkembang, Ketua Pembina Yayasan Lantera Bangsa Pdt. Dr. Jahja Iskandar memberikan pernyataan mendalam terkait relevansi teologis antara bangsa Israel dan penantian kedatangan Yesus Kristus.
Hal ini disampaikan Ketua Pembina Yayasan Lantera Bangsa dalam sesi wawancara khusus bersama Wartawan Warta Nusa Kenari usai menghadiri Seminar yang diselenggarakan di Aula Hotel Pelangi Indah Kalabahi, Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Kamis 12 Februari 2026.
Dalam penjelasannya, Pendeta Jahja menekankan terkait tema tersebut. Pihaknya mempunyai program untuk penyampaian sebagai Bangsa yang dikasihi Tuhan.
“Kita bisa harus menyikapi terutama sebagai orang Kristen tetap harus pada Iman yabg teguh dan memberikan sumbangsih yang penting bagi Bangsa”, ucapnya.
Pendeta Jahja juga bersimpati kepada peristiwa seorang sosok bocah di Kabupaten Ngada, NTT yang meninggal akibat dengan peristiwa kecil terkait biaya pembelian buku.
“Hal (peristiwa) tersebut merupakan kehilangan hati Bapak. Sebenarnya hati Bapak ini harusnya dipulihkan dan semestinya orang Kristen harus merasa perlu membapai Anak ini. Panggilan utama kita yang sebenarnya Kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus itu sempurna. Inilah Nampak dari Israel zaman Sekarang. Artinya Israel ini merupakan tanda yang Tuhan berikan kepada Dunia ini tentang semua penggenapan Alkitab”, kesannya.
“Pihak Yayasan Lantera Bangsa selalu membuka diri untuk bekerja sama dengan Asosiasi Pendeta Indonesia Cabang Alor, untuk bergandengan tangan untuk melakukan pekerjaan Tuhan di Bumi Persaudaraan ini”, lanjut Pendeta Jahja.
Ketika ditanya mengenai sikap yang harus diambil oleh masyarakat menghadapi isu-isu sensitif terkait Israel, Ketua Pembina Yayasan Lentera Bangsa Pendeta Jahja mengimbau agar umat tidak terjebak dalam rasa takut atau spekulasi yang liar.
“Tujuan bukan untuk menakut-nakutkan, melainkan untuk memberikan harapan kedatangan Yesus merupakan puncak dari kemenangan Iman. Kita melihat ke arah Israel untuk menantikan waktu Tuhan, namun kita bekerja disini untuk menjadi terang bagi sesama”, tandasnya.
Penulis: Sius Djobo
Editor: Markus Kari















